Kajian Teologis Hikmat Allah Dan Hikmat Manusia Berdasarkan 1 Korintus 1:18–31
Kata Kunci:
Hikmat Allah, hikmat manusia, salib Kristus, 1 Korintus 1:18–31, teologi PaulusAbstrak
Makalah ini mengkaji secara teologis konsep hikmat Allah dan hikmat manusia berdasarkan 1 Korintus 1:18–31, dengan fokus pada relevansinya terhadap kehidupan gereja saat ini. Hikmat Allah, dalam teologi Paulus, bersifat Kristosentris, paradoks, dan soteriologis; Kristus di kayu salib mewujudkan hikmat Allah, menyatakan kuasa dan keselamatan Allah melalui apa yang tampak lemah dan bodoh menurut standar duniawi. Sebaliknya, hikmat manusia, meskipun berguna dalam pengambilan keputusan dan interaksi sosial, memiliki keterbatasan dan tidak dapat menjadi dasar keselamatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tinjauan pustaka, eksegesis historis, gramatikal, dan teologis dari teks tersebut, serta pemeriksaan konteks sosial dan budaya gereja Korintus.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman yang tepat tentang perbedaan antara hikmat Allah dan hikmat manusia menuntun orang percaya untuk menempatkan salib Kristus di pusat iman mereka, hidup dalam kerendahan hati, dan memupuk persatuan dan kasih di dalam gereja. Implikasi teologis dan eklesiologis dari penelitian ini menekankan pentingnya memusatkan gereja pada Kristus, mengembangkan kerendahan hati, memupuk solidaritas, menerapkan hikmat Allah dalam praktik etika, dan secara selektif menilai budaya dunia melalui perspektif salib.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2022 Martinus Loghe Bondi, Suryadi (Penulis)

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Pengguna bebas untuk menyalin, mengubah, atau mendistribusikan ulang materi ini dalam media atau format apa pun, selama mencantumkan nama penulis dan sumber asli, serta mendistribusikan karya turunan di bawah lisensi yang sama.

